Sabtu, 28 September 2013

TOKO BUGIS TERKENAL

TOKO BUGIS TERKENAL

Daftar ini hanya untuk tokoh nasional dari suku Bugis atau berketurunan Bugis baik di Indonesia, Malaysia, Singapore, Amerika atau negara lain. Artikel ini boleh diedit dengan menambahkan nama yang relevan sesuai dengan urutan abjad. Urutan penamaan dapat dimulai dari gelar Andi, Daeng, Karaeng, Opu, Haji, Sultan, Syekh, Dato, Datuk, maupun Tun dan tidak dimulai dengan gelar Sarjana.


Agamawan



Akademisi, Ilmuwan dan Ahli



Aktivis dan Pejuang



Artis



Atlet



Kepala Negara



Menteri dan Pejabat Tinggi Negara



Militer dan Kepolisian



Pahlawan Nasional



Pengusaha dan Profesional



Politisi



Sastrawan dan Penulis



Seniman dan Budayawan



Tokoh Kerajaan



Wartawan


Kamis, 26 September 2013

SEJARAH MARIO RIAWA, SOPPENG

SEJARAH MARIO RIAWA, SOPPENG

Kecamatan Mario Riawa adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Soppeng, yang dahulunya merupakan sebuah kerajaan mandiri dan berdiri sendiri dalam naungan Konfederasi Watangsoppeng (Soppeng). Walaupun Mario Riawa berada dalam naungan Konfederasi Watan Soppeng, pada masa pemerintahan La Pawiseang Datu Soppeng VII, Mario Riawa keluar dari konfederasi tersebut dan Mario Riawa bergabung ke dalam Konfederasi Wajo yang pada saat itu dipimpin oleh Arung Matoa Wajo Lataddampare. Mario Riawa pada masa itu diperintah oleh Lapaiyyo (Lamappaiyyo) Datu Marioriawa dan beliau meninggal di Lagosi (Wajo), sehingga Lapaiyo diberi gelar anumerta yaitu Lapaiyo Datu Marioriawa Matinroe Ri Lagosi, Kerajaan Mario Riawa terdiri dari tiga Pabbicara dan satu Sullewatang, yakni Pabbicara Manorang Salo, Pabbicara Attang Salo, Pabbicara Bulue dan Sullewatang Padali, masing-masing terdiri dari beberapa Matoa. Di Bulue terdapat Matoa Panci, Galungkalungnge. Di Manorang Salo terdapat Matoa Welongnge dan Matoa Tanete, di Attang Salo terdapat Matoa Lompoe, Matoa Kaca, Matoa Pengree dan Matoa Bunne, sedangkan Sullewatang Padali tidak mepunyai Matoa karena posisinya seperti Datu Mario Riawa walaupun statusnya di wilayahnya sama dengan Pabbicara (istilah sekarang walikota administratif). Datu terakhir di Mario Riawa adalah Datu Mappejanci, Pabbicara terakhir di Attang Salo adalah La Pariwusi (Andi Pariwusi Daeng Mapadeng Pabbicara Attang Salo). Pabbicara terakhir di Manorang Salo adalah Andi Meru ( Andi Meru Pabbicara Manorang Salo ).Matoa terakhir di Lompoe adalah Andi Wakka Daeng Mawakka.Matoa terakhir dikaca adalah La Ma'gangka putra sullewatang padali terakhir Lacammu. Matoa Terakhir di Welongnge La Makkarella
Setelah terbentuknya Negara kestuan republik Indonesia, kerjaan soppeng ikut bergabung dengan Indonesia dan Kerajaan Soppeng pun berubah menjadi Kabupaten Soppeng, maka Status Kerajaan Mario Riawa-pun ikut berubah menjadi Kecamatan Mario Riawa, masuk dalam administrasi Kabupaten Soppeng, adapun Pabbicara berubah menjadi kelurahan dan desa, dan seiring dengan adanya pemekaran maka kelurahan dan desapun bertambah sebagai berikut, Kel Manorang Salo, Kelurahan Attang Salo, Kelurahan Batu-Batu, Kelurahan Kaca, Kelurahan Limpomajang, Desa Bulue, Desa Laringgi, Desa Panincong, dan Desa Patampanua, dan Desa Tellu Limpoe.
Nama-Nama Raja Yang Perna Memimpin Kerajaan (Akkarungeng) Marioriawa
  1. We Temma Buleng Malotongnge Datu (Ratu) Marioriawa (Istri dari Sulaedde/ La’de Bolongnge Datu Soppeng IX)
  2. We Pada Datu (Ratu) Mario Attassalo.]
  3. We Pancai’tana Bunga WaliE Datu Mariorawa merangkap Datu Tanete
  4. La Mallarangeng ,Datu (Raja) Marioriawa merangkap Datu Lompulle (Suami Tenri LElEang Pajung Luwu XXIII/XXV Tewas dalam perang di Batu-batu oleh iparnya sendiri yang bernama La Oddang Riwu Dg Mattinring Karaeng Tanete)
  5. Yabeng, Datu (Ratu) Marioriawa Attang Salo (Istri La Maggalatung (La Manrulu) To Kali Arung Matoa (Raja) Wajo)
  6. Baso Jaya Langkara Datu Marioriawa Merangkap Datu Tanete
  7. La Mappaiyo Datu (Raja) Marioriawa MatinroE Ri Lagosi (Tewas Oleh Iparnya sendiri yang bernama I Tenri Dolong)
  8. La Malleleang Datu (Raja) Mario Riawa Attassalo
  9. La Patau Petta Jangko Datu (Raja) Marioriawa Merangkap Datu Panincong dan Datu LEworeng, MatinroE ri Attang Salo, Marioriawa (Tewas di Penggal dalam perang perebutan Kekuasaan di Batu-batu oleh kemanakannya sendiri yang bernama La Makkarakalangi Baso Tancung Datu Marioriawa)
  10. La Makkarakalangi Baso Tancung (Tanecung) Datu (Raja) Marioriawa
  11. I Dulu Datu (Ratu) Mario ri Attangsalo (Istri dari La Makkarakalangi Baso Tancung)
  12. La Koro Arung Padali Datu Marioriawa Merangkap Batara Wajo/Arungmatowa (Raja) Wajo XLI
  13. La Passamula Datu Mariorawa MatinroE ri Batubatu, Merangkap Datu Lompulle, Ranreng Talotenre dan Arung Matowa (Raja) Wajo
  14. La Mappe Datu (Datu) Mario Riawa.
  15. La Mungkace Datu Marioriawa
  16. Andi Galibe Datu Marioriawa (Datu Soppeng XXXVI)
  17. Andi Mappejanci Datu Marioriawa Merangkap Datu Soppeng XXXVII

Nama-Nama Pejabat Yang Perna Meduduki Jabatan Pabbicara (Kepala Pengadilan Merangkap Kepala Pemerintahan/Wanua) Di Attang Salo Marioriawa

  1. Dg Mamalu Petta Pabbicara (Kepala Pengadilan Merangkap Kepala Pemerintahan/Wanua) ri Attang Salo Marioriawa (Putra dari Lapagemusu Petta PonggawaE anak La Mappaiyo Datu (Raja) Marioriawa MatinroE Ri Lagosi
  2. Dg MappilE Petta Pabbicara (Kepala Pengadilan Merangkap Kepala Pemerintahan/Wanua) ri Attang Salo Marioriawa Putra dari Dg Mamalu Petta Pabbicara Attang Salo Marioriawa
  3. Dg Pawellang Petta Pabbicara ( Hakim Pengadilan Perdata/Merangkap Kepala Pemerintahan/Wanua) ri Attang Salo Marioriawa III, Putra dari Dg MappilE Petta Pabbicara Attang Salo Marioriawa
  4. Andi Pariwusi Dg Mapadeng Petta Pabbicara (Hakim Pengadilan Perdata/Merangkap Kepala Pemerintahan) ri Attang Salo Marioriawa IV, Putra dari Dg Pawellang Petta Pabbicara Attang Salo Marioriawa

Nama-Nama Pejabat Yang Perna Meduduki Jabatan Yang Dipertua Negeri (Matoa) Di LompoE, Attang Salo, Marioriawa

  1. Andi Baji (Pung Baji) Matoa (Yang Dipertua Negeri) Lompo’E (anak dari Perkawinan La PabEangi Arung Ganra SullE Datu (Wakil Raja) Soppeng Dengan I Tenriwatu Sultanah Zaenab Datu (Ratu) Soppeng XXXIV), menjabat pada Tahun 1885-1915
  2. Andi Wakka Dg Mawakkang (Pung Wakka) Matoa (Yang Dipertua Negeri) Lompo’E (anak Dari Andi Baji (Pung Baji) Matoa Lompo’E), Menjabat pada Tahun 1915-1949

Peninggalan sejarah

Ada beberapa situs yang terdapat di Kecamatan Mario Riawa, di antaranya Komplek Pekuburan Raja Marioriawa dan bangsawan lainnya di Jerak'e Madining (Kelurahan Attang Salo), Komplek Komplek Pekuburan raja Marioriawa dan Bangsawan lainnya di Jerak'e Panci (Desa Bulue).
Disamping situs-situs ada beberapa obyek wisata di antaranya, pemandangan alam di Danau Tempe dengan beberapa aktraksi lomba perahu yang disebut Maccerak Tappareng di Kelurahan Limpomajang, Kelurahan Kaca dan Desa Patampanua. Attaraksi Mappadendang dan Mattojang dalam rangka pesta Panen Raya hampir di semua Kelurahan dan Desa. Komplek Rumah Adat "Sao Mario" di Kelurahan Manorang Salo serta Permandian Air Panas Lejja di Desa BuluE.

Desa dan kelurahan

  1. Kelurahan Attang Salo
  2. Kelurahan Batu-Batu
  3. Desa Bulue
  4. Kelurahan Kaca
  5. Desa Laringgi
  6. Kelurahan Limpomajang
  7. Kelurahan Manorang Salo
  8. Desa Panincong
  9. Desa Patampanua
  10. Desa Tellulimpoe

KISAH KERAJAAN WAJO

KISAH KERAJAAN WAJO

Ada dua tradisi sejarah terbentuknya kerajaan Wajo. Pertama versi tutur,yang disebut sebagai Pau-Pau ri Kadong. Dan versi kedua yaitu versi tulis. Yaitu versi lontara antara lain, Lontara Sukkuna Wajo, Lontara Attoriolong ri Wajo, Lontara Akkarungeng ri Wajo dan Kroniek Van Wadjo,yang merupakan hasil transkripsi J. Noorduyn pada salah satu naskah kronik Wajo lainnya.

Pau-Pau ri Kadong secara singkat bercerita tentang seorang putri Luwu yang sakit kulit, yakni We Tadampali. Atas masukan dari Hadat Luwu dan kebaikan rakyat Luwu, beliau dihanyutkan bersama pengikutnya agar tidak menjangkiti orang Luwu.

Ketika terdampar, beliau membuat pemukiman. Hingga suatu saat, beliau dijilat oleh kerbau belang hingga sembuh. Di saat bersamaan, seorang pangeran dari Bone beserta rombongannya yang sedang berburu, singgah beristirahat. Kebetulan, sang pangeran beserta rombongannya. Sang pangeran kaget melihat ada perkampungan kecil ditempat tersebut.Ketika mendatangi rumah besar (rumah We Tadampali) sang pangeran pun kaget hingga pingsan melihat kecantikan We Tadampali.

Pulang ke Bone, sang Pangeran meminta pada ayahandanya sang Raja agar segera dinikahkan. Singkat kata, lamaran pun diajukan ke Luwu dan diterima. Sang Pangeran Bone beserta We Tadampali hidup bahagia dan melahirkan putra-putra yang kelak menjadi paddanreng yang mendirikan Wajo.

Sedang versi kronik secara umum menggambarkan sebagai berikut. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan lainnya di jazirah selatan Sulawesi, Wajo tidak memulai dengan kondisi chaos. Namun kondisi damai, dimana para migran dari berbagai arah datang berkumpul disebuah pesisir danau yang kelak disebut Lampulung. Disebut Lampulung sebab berasal dari bahasa Bugis Sipulung yang berarti berkumpul. Ditempat itu ada seorang tua yang tidak diketahui nama aslinya yang digelari Puang ri Lampulung. Komunitas Lampulung ini membentuk beberapa perkampungan seperti Saebawi.

Sepeninggal Puang ri Lampulung, masyarakat Lampulung bubar. Hingga menemukan seorang tokoh yang sama seperti Puang ri Lampulung seperti kemampuan meramal dan teknik pengelolaan pertanian yang digelari Puang ri Timpengeng. Akhirnya terbentuk komunitas baru di Boli.

Masyarakat Boli sebagaimana masyarakat Lampulung hidup aman, tertib dan sejahtera hingga Puang ri Timpengeng wafat. Masyarakat Boli pun kehilangan pegangan. Kehidupan bermasyarakat mulai tidak tertib, berlaku hukum rimba. Hingga akhirnya, datanglah La Paukke, seorang pangeran kedatuan Cina/Mampu. La Paukke mendirikan kerajaan yang disebut Cinnotabi.

Pelan tapi pasti, kerajaan Cinnotabi mulai berkembang. La Paukke Arung Cinnotabi I digantikan oleh putrinya, We Panangngareng sebagai Arung Cinnotabi II. Kejayaan Cinnotabi di era Arung Cinnotabi III, We Tenrisui putri We Panangngareng. Beliau digantikan putranya, La Patiroi sebagai Arung Cinnotabi IV.

Setelah La Patiroi wafat, adat Cinnotabi mengangkat kedua putranya yaitu La Tenribali dan La Tenritippe sebagai Arung Cinnotabi V. Namun, dua pemimpin akan menyebabkan ketidakstabilan dalam pemerintahan. Disebutkan bahwa, La Tenritippe kurang adil dalam memutus perkara. Sehingga pejabat adat Cinnotabi beserta rakyatnya meninggalkan Cinnotabi dan berkampung di Boli.

Ketiga bersepupu, La Tenritau menyebut daerahnya Majauleng. La Tenripekka menyebut daerahnya Sabbamparu. Sedang La Matareng menyebut daerahnya Takkalalla. Ketiga daerah ini menyebut dirinya TelluE Turungeng Lakka. Kemudian berubah menjadi Lipu Tellu KajuruE. Lipu Tellu KajuruE kemudian melamar La Tenribali yang sebelumnya mendirikan kerajaan Penrang untuk menjadi raja Wajo.

Melalui sebuah perjanjian, Assijancingengnge ri Majauleng, maka didirikanlah kerajaan Wajo. Disebut Wajo sebab perjanjian tersebut diadakan dibawah bayang-bayang=wajo-wajo pohon Bajo. La Tenribali digelari Batara Wajo.

Sepeninggal La Tenribali, maka putranya yaitu La Mataesso diangkat menjadi Batara Wajo II. Kemudian La Pateddungi to Samallangi diangkat menjadi Batara Wajo III. Di zaman Batara Wajo III, sang Raja melakukan banyak kesewenang-wenangan. Hingga setelah berbagai masukan dari rakyat Wajo, I La Tiringeng to Taba memperingati Batara Wajo III. Namun sampai berkali-kali diperingati, La Pateddungi selalu mengulang kesalahannya. Akhirnya, ia diturunkan dari takhtanya dan dibunuh di sebuah tempat luar Wajo saat itu yang disebut sebagai La Marakko.


(Reruntuhan pohon Asam Lapaddeppa.Dibawah pohon inilah dahulu diadakan perjanjian Allamumpatue ri Lapaddeppa)


Kekosongan pemerintahan pasca kematian La Pateddungi membuat rakyat dan adat Wajo melakukan perubahan pada sistem pemerintahannya. Akhirnya diadakan perjanjian (allamumpatuE ri Lapaddeppa) yang berisi hak-hak konstitusional kemerdekaan orang Wajo. Selanjutnya, La Palewo to Palippu terpilih menjadi Arung Matowa. Adapun gelar Batara Wajo tidak digunakan lagi.(arm)

KISAH SUKU BUGIS

  KISAH SUKU BUGIS

Orang Bugis zaman dulu menganggap nenek moyang mereka adalah pribumi yang telah didatangi titisan langsung dari “dunia atas” yang “turun” (manurung) atau dari “dunia bawah” yang “naik” (tompo) untuk membawa norma dan aturan sosial ke bumi (Pelras, The Bugis, 2006).

Umumnya orang-orang Bugis sangat meyakini akan hal to manurung, tidak terjadi banyak perbedaan pendapat tentang sejarah ini. Sehingga setiap orang yang merupakan etnis Bugis, tentu mengetahui asal-usul keberadaan komunitasnya. Kata “Bugis” berasal dari kata to ugi, yang berarti orang Bugis.

Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan negara Cina, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We‘ Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu‘, ayahanda dari Sawerigading.

Sawerigading sendiri adalah suami dari We‘ Cudai dan melahirkan beberapa anak, termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar. Sawerigading Opunna Ware‘ (Yang Dipertuan Di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili, Gorontalo, dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Adat Istiadat

Salah satu daerah yang didiami oleh suku Bugis adalah Kabupaten Sidenreng Rappang. Kabupaten Sidenreng Rappang disingkat dengan nama Sidrap adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Pangkajene Sidenreng. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.506,19 km2 dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 264.955 jiwa. Penduduk asli daerah ini adalah suku Bugis yang ta’at beribadah dan memegang teguh tradisi saling menghormati dan tolong menolong. Dimana-mana dapat dengan mudah ditemui bangunan masjid yang besar dan permanen. Namun terdapat daerah dimana masih ada kepercayaan berhala yang biasa disebut ‘Tau Lautang’ yang berarti ‘Orang Selatan’. 

Adat Pernikahan 

Dalam sistem perkawinan adat Bugis terdapat perkawinan ideal:
1. Assialang Maola
    Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kesatu, baik dari pihak ayah 
    maupun ibu.

2. Assialanna Memang
    Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kedua, baik dari pihak ayah 
    maupun ibu.

3. Ripaddeppe’ Abelae
    Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat ketiga, baik dari pihak ayah 
    maupun ibu atau masih mempunyai hubungan keluarga. 

Adapun perkawinan – perkawinan yang dilarang dan dianggap sumbang (salimara’):
1. perkawinan antara anak dengan ibu / ayah
2. perkawinan antara saudara sekandung
3. perkawinan antara menantu dan mertua
4. perkawinan antara paman / bibi dengan kemenakan
5.  perkawinan antara kakek / nenek dengan cucu

Tahap – tahap dalam perkawinan secara adat :
1. Lettu ( lamaran)
    Ialah kunjungan keluarga si laki-laki ke calon mempelai perempuan untuk 
    menyampaikan keinginannya untu melamar calon mempelai perempuan.

2. Mappettuada. (kesepakatan pernikahan)
    Ialah kunjungan dari pihak laki-laki ke pihak perempuan untuk membicarakan
    waktu pernikahan,jenis sunrang atau mas kawin,balanja atau belanja 
    perkawinan penyelanggaran pesta dan sebagainya

3. Madduppa (Mengundang)
    Ialah kegiatan yang dilakukan setelah tercapainya kesepakayan antar kedua bilah 
    pihak untuk memberi tahu kepada semua kaum kerabat mengenai perkawinan yang
    akan dilaksanakan.

4. Mappaccing (Pembersihan)
    Ialah ritual yang dilakukan masyarakat bugis (Biasanya hanya dilakukan oleh kaum 
    bangsawan), Ritrual ini dilakukan pada malam sebelum akad nikah di mulai, 
    dengan mengundang para kerabat dekat sesepuh dan orang yang dihormati 
    untuk melaksanakan ritual ini, cara pelaksanaan nya dengan menggunakan daun 
    pacci (daun pacar),kemudian para undangan di persilahkan untuk memberi berkah 
    dan doa restu kepada calon mempelai, konon bertujuan untuk membersihkan dosa 
    calon mempelai, dilanjutkan dengan sungkeman kepada kedua orang tua calon mempelai.

Pasangan Pengantin


Hari pernikahan dimulai dengan mappaendre balanja , ialah prosesi dari mempelai laki-laki disertai rombongan dari kaum kerabat, pria-wanita, tua-muda, dengan membawa macam-macam makanan, pakaian wanita, dan mas-kawin ke rumah mempelai wanita. Sampai di rumah mempelai wanita langsung diadakan upacara pernikahan,dilanjutkan dengan akad nikah. Pada pesta itu biasa para tamu memberikan kado tau paksolo’. setelah akad nikah dan pesta pernikahan di rumah mempelai wanita selesai dilalanjutkan dengan acara “mapparola” yaitu mengantar mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki.

mappaenre botting :
Beberapa hari setelah pernikahan para pengantin baru mendatangi keluarga mempelai laki-laki dan keluarga mempelai wanita untuk bersilaturahmi dengan memberikan sesuatu yang biasanya sarung sebagai simbol perkenalan terhadap keluarga baru. Setelah itu, baru kedua mempelai menempati rumah mereka sendiri yang disebut nalaoanni alena.

Kepercayaan

Orang-orang ini dalam seharinya menyembah berhala di dalam gua atau gunung atau pohon keramat. Akan tetapi, di KTP (Kartu Tanda Penduduk) mereka, agama yang tercantum adalah agama Hindu. Mereka mengaku shalat 5 waktu, berpuasa, dan berzakat. Walaupun pada kenyataannya mereka masih menganut animisme di daerah mereka. Saat ini, penganut kepercayaan ini banyak berdomisili di daerah Amparita, salah satu kecamatan di Kabupaten Sidrap.

Hukum Adat

Di Sidrap pernah hidup seorang Tokoh Cendikiawan Bugis yang cukup terkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang (Addatuang = semacam pemerintahan distrik di masa lalu) yang bernama Nenek Mallomo’. Dia bukan berasal dari kalangan keluarga istana, akan tetapi kepandaiannya dalam tata hukum negara dan pemerintahan membuat namanya cukup tersohor. Sebuah tatanan hukum yang sampai saat ini masih diabadikan di Sidenreng yaitu: Naiya Ade’e De’nakkeambo, de’to nakkeana. (Terjemahan : sesungguhnya ADAT itu tidak mengenal Bapak dan tidak mengenal Anak). Kata bijaksana itu dikeluarkan Nenek Mallomo’ Suku Bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat. Suku ini sangat menghindari tindakan-tindakan yang mengakibatkan turunnya harga diri atau martabat seseorang. Jika seorang anggota keluarga melakukan tindakan yang membuat malu keluarga, maka ia akan diusir atau dibunuh. Namun, adat ini sudah luntur di zaman sekarang ini. Tidak ada lagi keluarga yang tega membunuh anggota keluarganya hanya karena tidak ingin menanggung malu dan tentunya melanggar hukum. Sedangkan adat malu masih dijunjung oleh masyarakat Bugis kebanyakan. 

Walaupun tidak seketat dulu, tapi setidaknya masih diingat dan dipatuhiketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada putera Nenek Mallomo yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya. Dalam Lontara’ La Toa, Nenek Mallomo’ disepadankan dengan tokoh-tokoh Bugis-Makassar lainnya, seperti I Lagaligo, Puang Rimaggalatung, Kajao Laliddo, dan sebagainya. Keberhasilan panen padi di Sidenreng karena ketegasan Nenek Mallomo’ dalam menjalankan hukum, hal ini terlihat dalam budaya masyarakat setempat dalam menentukan masa tanam melalui musyawarah yang disebut TUDANG SIPULUNG (Tudang = Duduk, Sipulung = Berkumpul atau dapat diterjemahkan sebagai suatu Musyawarah Besar) yang dihadiri oleh para Pallontara’ (ahli mengenai buku Lontara’) dan tokoh-tokoh masyarakat adat. Melihat keberhasilan TUDANG SIPULUNG yang pada mulanya diprakarsai oleh Bupati kedua, Bapak Kolonel Arifin Nu’mang sebelum tahun 1980, daerah-daerah lain pun sudah menerapkannya.

Mata Pencaharian 

Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

Adat Panen

Mulai dari turun ke sawah, membajak, sampai tiba waktunya panen raya. Ada upacara appalili sebelum pembajakan tanah. Ada Appatinro pare atau appabenni ase sebelum bibit padi disemaikan. Ritual ini juga biasa dilakukan saat menyimpan bibit padi di possi balla, sebuah tempat khusus terletak di pusat rumah yang ditujukan untuk menjaga agar tak satu binatang pun lewat di atasnya. Lalu ritual itu dirangkai dengan massureq, membaca meong palo karallae, salah satu epos Lagaligo tentang padi. 

Dan ketika panen tiba digelarlah katto bokko, ritual panen raya yang biasanya diiringi dengan kelong pare. Setelah melalui rangkaian ritual itu barulah dilaksanakan Mapadendang. Di Sidrap dan sekitarnya ritual ini dikenal dengan appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk padi muda. Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktifitas ini.

Bagi komunitas Pakalu, ritual mappadendang mengingatkan kita pada kosmologi hidup petani pedesaan sehari-hari. Padi bukan hanya sumber kehidupan. Ia juga makhluk manusia. Ia berkorban dan berubah wujud menjadi padi. Agar manusia memperoleh sesuatu untuk dimakan, yang seolah ingin menghidupkan kembali mitos Sangiyang Sri, atau Dewi Sri di pedesaan Jawa, yang diyakini sebagai dewi padi yang sangat dihormati.

Bahasa Suku Bugis

Bahasa Bugis adalah bahasa yang digunakan etnik Bugis di Sulawesi Selatan, yang tersebar di kabupaten sebahagian Kabupaten Maros, sebahagian Kabupaten Pangkep, Kabupaten Barru, Kota Pare-pare, Kabupaten Pinrang, sebahagian kabupaten Enrekang, sebahagian kabupaten Majene, Kabupaten Luwu, Kabupaten Sidenrengrappang, Kabupaten Soppeng,Kabupaten Wajo, Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba, dan Kabupaten Bantaeng. Masyarakat Bugis memiliki penulisan tradisional memakai aksara Lontara. Pada dasarnya, suku kaum ini kebanyakannya beragama Islam Dari segi aspek budaya, suku kaum Bugis menggunakan dialek sendiri dikenali sebagai ‘Bahasa Ugi’ dan mempunyai tulisan huruf Bugis yang dipanggil ‘aksara’ Bugis. Aksara ini telah wujud sejak abad ke-12 lagi sewaktu melebarnya pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia.

 
Aksara Bugis


Kesenian

Alat musik:

1.Kacapi(kecapi) 
   Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis, 
   Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau 
   diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang  
   memiliki dua dawai,diambil karena penemuannya dari tali layar perahu. 
   Biasanya ditampilkan pada acara penjemputan para tamu, perkawinan, hajatan, 
   bahkan hiburan pada hari ulang tahun.

2. Sinrili
    Alat musik yang mernyerupai biaola cuman kalau biola di mainkan dengan 
    membaringkan di pundak sedang singrili di mainkan dalam keedaan pemain 
    duduk dan alat diletakkan tegak di depan pemainnya.

3. Gendang
    Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang dan bundar
    seperti rebana.

4. Suling
   Suling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu:
• Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telah punah.
• Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapi dan 
   dimainkan bersama penyanyi
• Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara di daerah
   Kecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval (baris-berbaris) atau
   acara penjemputan tamu.

Seni Tari

• Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.
• Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika 
   kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda kesyukuran 
   dan kehormatan
• Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan perempuan-perempuan yang 
   sedang menenun benang menjadi kain. Melambangkan kesabaran dan ketekunan 
   perempuan-perempuan Bugis.
• Tari Pajoge’ dan Tari Anak Masari; tarian ini dilakukan oleh calabai (waria), 
   namun jenis tarian ini sulit sekali ditemukan bahkan dikategorikan telah punah.
• Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa ,tari Pa’galung, dan tari
   Pabbatte(biasanya di gelar padasaat Pesta Panen).

Makanan Khas Sulawesi Selatan

1. COTO MAKASSAR
2. KONRO
3. SOP SAUDARA
4. PISANG EPE’
5. PISANG IJO
6. PALU BASSAH
7. PALA BUTUNG
8. NASU PALEKKO (Bebek)

Permainan

Beberapa permainan khas yang sering dijumpai di masyarakat Bugis ( Pinrang): Mallogo, Mappadendang, Ma’gasing, Mattoajang (ayunan), getong-getong, Marraga, Mappasajang (layang-layang), Malonggak

Senjata Suku Bugis

 KAWALI senjata khas suku bugis.....!