RUMAH ADAT SUKU BUGIS
Rumah
adat suku Bugis dapat di bedakan berdasarkan status sosial orang yang
menempatinya, Rumah Saoraja (Sallasa) berarti rumah besar yang di
tempati oleh keturunan raja (kaum bangsawan) dan bola adalah rumah yang
di tempati oleh rakyat biasa.
Tipologi kedua rumah ini adalah sama-sama rumah panggung, lantainya mempunyai jarak tertentu dengan tanah, bentuk denahnya sama yaitu empat persegi panjang. Perbedaannya adalah saoraja dalam ukuran yang lebih luas begitu juga dengan tiang penyangganya, atap berbentuk prisma sebagai penutup bubungan yang biasa di sebut timpak laja yang bertingkat-tingkat antara tiga sampai lima sesuai dengan kedudukan penghuninya.
Tipologi kedua rumah ini adalah sama-sama rumah panggung, lantainya mempunyai jarak tertentu dengan tanah, bentuk denahnya sama yaitu empat persegi panjang. Perbedaannya adalah saoraja dalam ukuran yang lebih luas begitu juga dengan tiang penyangganya, atap berbentuk prisma sebagai penutup bubungan yang biasa di sebut timpak laja yang bertingkat-tingkat antara tiga sampai lima sesuai dengan kedudukan penghuninya.
Rumah
bugis sebenarnya tahan gempa dan banjir. Karena Rumah bugis yang
sebenarnya menggunakan parelepang (fattoppo dan fadongko) yang tidak
disambung. Karena struktur kayu yang tidak disambung dapat meredam
getaran hingga getaran yang frekuensinya tinggi. Namun sekarang mencari
kayu yang sangat panjang sangatlah sulit, sehingga parelepang diganti
dengan pattolo (ukurannya lebih kecil).
Jadi,
kalau tinggal di daerah rawan gempa, Rumah bugis adalah solusi yang
tepat agar rumah Anda tidak terpora-porandakan gempa. Begitu juga dengan
banjir, asal banjirnya tidak melebihi 2 meter dan pondasinya tidak
mudah terbawa arus.
Rumah
Bugis Tradisional merupakan contoh model rumah Asia tenggara yaitu
rumah panggung dari kayu, yang atapnya berlereng dua dan kerangkanya
berbentuk huruf ”H” terdiri dari tiang dan balok yang dirakit tanpa
pasak atau paku; Tianglah yang menopang lantai dan atap sedangkan
dinding hanya diikat pada tiang luar.
Karakteristik
fisik itu, yang membuat model rumah itu mudah dibongkar atau malah
dipindahkan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pemukiman orang
bugis sering kali berpindah dan tidak terpusat pada suatu pemukiman
permanen.
Rumah
bugis memiliki keunikan tersendiri, dibandingkan dengan rumah panggung
dari suku yang lain ( Sumatera dan Kalimantan ). Bentuknya biasanya
memanjang ke belakang, dengan tanbahan disamping bangunan utama dan
bagian depan [ orang bugis menyebutnya lego - lego ].
Bagaimana sebenarnya arsitektur dari rumah panggung khas bugis ini ? Berikut adalah bagian - bagiannya utamanya :
1. Alliri (Tiang)
Model rumah bugis pada mulanya hanya diperuntukkan bagi kalangan
bangsawan. Misalnya, hanya mereka yang boleh menggunakan tiang segi
empat atau segi delapan, sedangkan orang biasa hanya boleh menggunakan
tiang bundar.
Tiang rumah (alliri)
bertumpu di atas tanah dan berdiri hingga ke loteng serta menopang
berat atap. Tetapi sekarang, makin banyak rumah besar yang tiangnya
tidak di ditanam lagi, tetapi ditumpukan di atas pondasi batu.
Biasanya
terdiri dari 4 batang setiap barisnya. jumlahnya tergantung jumlah
ruangan yang akan dibuat. tetapi pada umumnya, terdiri dari 3 / 4 baris
alliri. Jadi totalnya ada 12 batang alliri.
2. Awa Bola ( Kolong Rumah )
Awa
bola ialah kolong yang terletak pada bagian bawah, yakni antara lantai
dengan tanah. Kolong ini biasa pada zaman dulu dipergunakan untuk
menyimpan alat pertanian, alat berburu, alat untuk menangkap ikan dan
hewan-hewan peliharaan yang di pergunakan dalam pertanian.
3. Arateng dan Ware’ ( Penyangga Lantai dan Penyangga Loteng )
Pada setiap tiang dibuat lubang segi empat untuk menyisipkan balok pipih penyangga lantai (arateng) dan balok pipih penyangga loteng (ware’),
yang menghubungkan panjang rangka rumah. Dahulu, rumah yang tiangnya
ditanam tidak menggunakan balok penyangga loteng, dan balok penyangga
lantai tidak disisipkan pada tiang, tetapi diikat.
4. Ale Bola ( Badan Rumah )
Ale bola ialah badan rumah yang terdiri dari lantai dan dinding yang
terletak antara lantai dan loteng. Pada bagian ini terdapat
ruangan-ruangan yang dipergunakan dalam aktivitas sehari-hari seperti
menerima tamu, tidur, bermusyawarah, dan berbagai aktifitas lainnya.
Badan rumah tediri dari beberapa bagian rumah seperti:
Lotang
risaliweng, Pada bagian depan badan rumah di sebut yang berfungsi
sebagai ruang menerima tamu, ruang tidur tamu, tempat bermusyawarah,
tempat menyimpan benih, tempat membaringkan mayat sebelum dibawa ke
pemakaman.
5. Posi’ Bola ( Pusat Rumah )
Rumah Bugis memiliki struktur dasar yang terdiri atas 3 kali 3 tiang (3
barisan tiang memanjang dan 3 baris melebar) berbentuk persegi empat
dengan satu tiang ditiap sudutnya, dan pada setiap sisi terdapat satu
tiang tengah, serta tepat di tengah persilangan panjang dan lebar
terdapat tiang yang disebut ”pusat rumah”(posi bola). Umumnya, rumah orang biasa terdiri atas empat tiang untuk panjang dan empat untuk lebar rumah.
6. Timpa’ Laja
Berbagai ciri khas juga ditambahkan pada rumah-rumah kalangan bangsawan
tinggi untuk menunjukkan status sosial mereka. Ciri paling menonjol
adalah jumlah bilah papan yang menyusun dinding bagian muka atap rumah (timpa’ laja’, dari bahasa Melayu tebar layar): Dua lapis untuk tau deceng, Tiga untuk ana’cera’, lima untuk ana’ ma’tola,dan tujuh untuk penguasa kerajaan-kerajaan utama bugis,luwu’,bone, wajo’,soppeng, dan sidenreng. Sementara itu, hanya golongan ana’ cera’ ke atas yang berhak menggunakan tangga yang naik membujur.
7. Addengeng (Tangga)
Sementara itu, hanya golongan ana’ cera’ ke
atas yang berhak menggunakan tangga yang naik membujur. Dan hanya
kalangan bangsawan tertinggi boleh menggunakan tangga berupa latar
miring tanpa anak tangga, terbuat dari bila-bila bambu yang, notabene,
sangat licin dan disebut sapana ( bahasa Sansekerta yang mungkin diadopsi lewat bahasa Melayu: Sopana ’tangga’).
8. Tamping
Pada sisi panjang (bagian samping badan rumah) biasanya ditambahkan tamping,
yakni semacam serambi memanjang yang lantainya sedikit lebih rendah,
dengan atap tersendiri; pintu masuk bagian depan berada di ujung depan tamping dan jika ruang dapur tidak terpisah dapurnya berada di ujung di belakang tamping. Kalaupun ada tambahan lain, dengan rancangan lebih kompleks, bentuk segi empat tetap jadi pola dasar.
9. Rakkeang ( Langit-langit )
Rakkeang, adalah bagian diatas langit - langit (eternit). Dahulu biasanya digunakan untuk menyimpan padi yang baru di panen.
10. Anjong
Selain
sebagai hiasan rumah, anjong juga memiliki makna tertentu bagi orang
bugis. Anjong merupakan salah satu ciri khas orang bugis, dimana pada
rumah orang bangsawan memiliki lebih dari dua anjong.Sedangkan anjong
pada rumah orang biasa tidak lebih dari dua.
Pada dasarnya, rumah tersebut memiliki atap (pangate’) dua latar dengan sebuah bubungan lurus (alekke’),
yang berbeda dengan bubungan lengkung yang terdapat pada rumah toraja,
Batak, dan Minangkabau, serta pada rumah Jawa. Dindingnya (renring) terbuat dari bahan ringan, sementara lantainya (salima) berjarak sekitar 2 meter / kadang-kadang lebih dari permukaan tanah dan kolong rumah (awa bola) biasanya dibiarkan terbuka.
SALAM BUGIS PERANTAUAN...!!!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar